Beranda > Lain Lain, My Life > Sarjana dan Dilema

Sarjana dan Dilema

need-d-bucks

Dilema Para Sarjana

Sarjana (lulusan S1), jenjang pendidikan yang dulunya sangat langka dan sulit dicapai oleh seseorang. Bahkan, orang yang menyandang gelar ini identik dengan orang berduit dan di cap pintar di mata masyarakat. Itu dulu!!!

Sekarang, kesempatan untuk menjadi sarjana sangat terbuka bagi masyarakat dengan banyaknya pilihan universitas ataupun institusi pendidikan yang setara. Banyak disekitar kita orang orang yang menyandang gelar sarjana tanpa memandang derajat, status ekonomi, IQ tinggi atau tidak, dan lain lain. Terlepas dari bagaimana dan dengan cara apa kita menyandang gelar itu, kita tetap harus bangga menjadi seorang sarjana.

Tapi, bangga saja tidak cukup! Banyak hal yang harus kita lakukan dengan gelar sarjana di pundak. Kalau hanya merasa bangga dan berjalan pongah di tengah keramaian, anak SMU, SLTP, SD bahkan mungkin anak TK pun bisa.

Apa yang kita mampu, keahlian apa yang kita punya, bermanfaatkah ilmu kita, apa yang kita dapat dan berikan sebagai seorang sarjana? Itu adalah contoh beberapa pertanyaan di antara sekian banyak pertanyaan lainnya yang saya yakin ada di benak kita.

Saya ingat dengan pertanyaan dan ucapan seorang dosen ketika masih kuliah, “apa yang anda anda sekalian lakukan setelah lulus nanti?” Saya dan 75% teman teman sekelas lantang menjawab “mencari kerja pak!”. Beliau tertawa dan berkata “sarjana bukanlah pekerja, tapi pemikir! Buang jauh jauh pikiran anda untuk mencari pekerjaan atau bekerja dengan orang lain, atau anda akan menambah daftar pengangguran di Indonesia! Kalau hanya untuk mencari kerja kenapa harus menghabiskan biaya menjadi sarjana, tamatan SMU dan D3 pun bisa!”.

Inilah yang menjadi dilema. Jangankan untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain, untuk mendapatkan pekerjaan saja susah. Tidak dipungkiri banyak sarjana yang memang menambah daftar pengangguran di Indonesia.

Tidak semua sarjana yang seperti itu memang, ada juga yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan ataupun setidaknya mendapatkan pekerjaan. Tapi timbul lagi dilema lain, usaha dan pekerjaan yang digeluti tidak sesuai dengan ilmunya sebagai sarjana A, B, C dan lain lain. Meskipun lebih baik daripada tidak bekerja sama sekali, tapi tentu kita ingin ilmu, keahlian dan keterampilan yang kita punya itu terpakai dan bermanfaat.

Mungkin masih banyak lagi dilema dilema bagi para sarjana yang lain. Kejadian di atas adalah pengalaman pribadi dan sekitar saya, dan saya yakin masih banyak diluar sana yang satu cerita dan setopik.

Semoga tulisan ini bermanfaat, bagi saya, bagi para sarjana dan bagi teman teman yang berniat ingin menjadi sarjana.

  1. sitidjenar
    13 Maret 2009 pukul 11:13

    ya moga2 aja penulisnya bisa menjadi seperti apa yang di katakan sang dosen..menjadi “pemikir”..salam

  2. 13 Maret 2009 pukul 14:37

    kk blog na keren bgt

    jgn lupa silaturrahmi ke blog saya ya

    http://jamelblog.wordpress.com/

  3. 29 Mei 2010 pukul 17:04

    harusnya bukan mencari kerja tapi menciptakan kerja. Ilmu yang ada harus di manfaatkan. betul?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: